Kamis, 25 November 2010

Keanehan di Letusan Merapi



 
Keanehan itu terlihat pada saat letusan besar kedua yang terjadi pada Minggu dini hari.

 VIVAnews - Letusan Gunung Merapi tahun ini sangat berbeda dengan letusan yang terjadi pada 2006, 2001, dan 1997. Ada yang tidak biasa pada letusan kali ini.
"Memang, Merapi tahun ini aneh," Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kementerian ESDM, Surono, kepada VIVAnews.com, Senin 1 November 2010.

Keanehan itu terlihat pada saat letusan besar kedua yang terjadi pada Sabtu dini hari 30 Oktober 2010. Merapi mengeluarkan suara. Suara dentuman yang keras yang membuat semua orang panik. Termasuk tentara, polisi, petugas evakuasi, apalagi pengungsi. Semua panik. "Dalam sejarahnya, Merapi memang tidak pernah mengeluarkan suara dentuman," ujar Surono.

Apa penyebabnya? Menurut Surono, itu adalah proses eksplosif biasa. Dan suara keras itu diduga berasal dari kandungan gas yang terkandung dalam magma di perut Merapi. Surono mengakui, karakter Merapi itu bukan seperti gunung berapi lainnya yang mengeluarkan suara seperti petasan saat meletus.

Apakah ini karena energi yang sangat besar terkandung di dalam Merapi? "Saya sudah prediksi sejak awal, energi Merapi kali ini memang lebih besar dari 1997, 2001, dan 2006. Apakah ini salah satu bentuknya? Saya belum bisa pastikan," Surono menjelaskan.

Bencana Merapi yang terjadi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang, sekitar pukul 18.02 WIB, menewaskan 34 orang termasuk Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang yang terbagi di 28 titik tempat penampungan akhir (TPA).

Maka itu, Surono kembali mengingatkan pemerintah daerah setempat untuk bersikap tegas kepada warga pengungsi. Area 10 kilometer dari puncak Merapi harus steril.

"Jangan sampai ada warga yang naik lagi ke atas untuk mencari makan buat ternaknya. Kondisi Merapi ini bukan lari jarak pendek. Kami ingin mencapai finish yang baik," kata Surono memberi analogi.

Keanehan di Letusan Merapi



 
Keanehan itu terlihat pada saat letusan besar kedua yang terjadi pada Minggu dini hari.

 VIVAnews - Letusan Gunung Merapi tahun ini sangat berbeda dengan letusan yang terjadi pada 2006, 2001, dan 1997. Ada yang tidak biasa pada letusan kali ini.
"Memang, Merapi tahun ini aneh," Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kementerian ESDM, Surono, kepada VIVAnews.com, Senin 1 November 2010.

Keanehan itu terlihat pada saat letusan besar kedua yang terjadi pada Sabtu dini hari 30 Oktober 2010. Merapi mengeluarkan suara. Suara dentuman yang keras yang membuat semua orang panik. Termasuk tentara, polisi, petugas evakuasi, apalagi pengungsi. Semua panik. "Dalam sejarahnya, Merapi memang tidak pernah mengeluarkan suara dentuman," ujar Surono.

Apa penyebabnya? Menurut Surono, itu adalah proses eksplosif biasa. Dan suara keras itu diduga berasal dari kandungan gas yang terkandung dalam magma di perut Merapi. Surono mengakui, karakter Merapi itu bukan seperti gunung berapi lainnya yang mengeluarkan suara seperti petasan saat meletus.

Apakah ini karena energi yang sangat besar terkandung di dalam Merapi? "Saya sudah prediksi sejak awal, energi Merapi kali ini memang lebih besar dari 1997, 2001, dan 2006. Apakah ini salah satu bentuknya? Saya belum bisa pastikan," Surono menjelaskan.

Bencana Merapi yang terjadi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang, sekitar pukul 18.02 WIB, menewaskan 34 orang termasuk Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang yang terbagi di 28 titik tempat penampungan akhir (TPA).

Maka itu, Surono kembali mengingatkan pemerintah daerah setempat untuk bersikap tegas kepada warga pengungsi. Area 10 kilometer dari puncak Merapi harus steril.

"Jangan sampai ada warga yang naik lagi ke atas untuk mencari makan buat ternaknya. Kondisi Merapi ini bukan lari jarak pendek. Kami ingin mencapai finish yang baik," kata Surono memberi analogi.

  VIVAnews - Letusan Gunung Merapi tahun ini sangat berbeda dengan letusan yang terjadi pada 2006, 2001, dan 1997. Ada yang tidak biasa pada letusan kali ini.
"Memang, Merapi tahun ini aneh," Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kementerian ESDM, Surono, kepada VIVAnews.com, Senin 1 November 2010.

Keanehan itu terlihat pada saat letusan besar kedua yang terjadi pada Sabtu dini hari 30 Oktober 2010. Merapi mengeluarkan suara. Suara dentuman yang keras yang membuat semua orang panik. Termasuk tentara, polisi, petugas evakuasi, apalagi pengungsi. Semua panik. "Dalam sejarahnya, Merapi memang tidak pernah mengeluarkan suara dentuman," ujar Surono.

Apa penyebabnya? Menurut Surono, itu adalah proses eksplosif biasa. Dan suara keras itu diduga berasal dari kandungan gas yang terkandung dalam magma di perut Merapi. Surono mengakui, karakter Merapi itu bukan seperti gunung berapi lainnya yang mengeluarkan suara seperti petasan saat meletus.

Apakah ini karena energi yang sangat besar terkandung di dalam Merapi? "Saya sudah prediksi sejak awal, energi Merapi kali ini memang lebih besar dari 1997, 2001, dan 2006. Apakah ini salah satu bentuknya? Saya belum bisa pastikan," Surono menjelaskan.

Bencana Merapi yang terjadi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang, sekitar pukul 18.02 WIB, menewaskan 34 orang termasuk Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang yang terbagi di 28 titik tempat penampungan akhir (TPA).

Maka itu, Surono kembali mengingatkan pemerintah daerah setempat untuk bersikap tegas kepada warga pengungsi. Area 10 kilometer dari puncak Merapi harus steril.

"Jangan sampai ada warga yang naik lagi ke atas untuk mencari makan buat ternaknya. Kondisi Merapi ini bukan lari jarak pendek. Kami ingin mencapai finish yang baik," kata Surono memberi analogi.

Kamis, 11 November 2010

mistis mentawai

MENTAWAI- Cuaca buruk menghambat perjalanan tim media, tim dari Kementerian Sosial, sejumlah pengungsi, dan relawan kemanusiaan menuju Padang dari Pulau Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Selain karena faktor alam, hal-hal yang tidak masuk akal pun menemani perjalanan rombongan. Malam itu suara tangisan bayi memecahkan suasana perjalanan. Bayi tiga bulan itu, tidak henti-hentinya menangis.

"Bapak anaknya jangan ditaruh di situ, kemarin ada yang meninggal di sana,” ujar seorang tentara kepada Petrus, ayah bayi tersebut.

Sehari sebelumnya, memang ada penumpang yang tewas di dalam kapal sepanjang 45 meter ini. Setelah dipindahkan, anehnya bayi tersebut langsung diam dan tersenyum. ”Di tempat itu masih ada yang di sana dan belum mau  pulang kali,” timpal Arif, salah seorang penumpang kapal.

Dari tiga anak Petrus, hanya anaknya yang paling kecil saja yang tidak menangis ketika di tempatkan di lokasi tersebut. “Kedua kakaknya menangis terus,” ujar Petrus kepada okezone.

Petrus bersama keluarganya berencana mengungsi ke Ujungpandang setelah rumahnya hanyut terbawa gelombang tsunami. Dengan sisa uang seadanya dia nekat membawa pergi keluarganya karena khawatir ada bencana susulan.

Malam itu, gelombang air laut cukup besar untuk mengombang-ambingkan kapal yang dinaiki rombongan. Di perjalanan, pintu kamar di beberapa ruangan di dalam kapal beberapa kali terbuka dan daun pintunya terhempas sehingga menimbulkan suara keras.

Situasi di atas cukup aneh mengingat para penumpang dan kru kapal sebelumnya telah menutup pintu-pintu tersebut rapat-rapat. “Mungkin hanya angin saja,” ujar salah seorang warga Mentawai, yang berusaha menenangkan penumpang lain.(ful)

Senin, 08 November 2010

JeRuK baNyaK ManFaaTnya

Pada jaman dahulu, seorang pelaut menemukan bahwa buah jeruk dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Kini, buah jeruk terkenal akan kandungan Vitamin C yang tinggi dan Asam Askorbik. Vitamin C dapat membantu mencegah sariawan, pembengkakan, pendarahan gusi, mempercepat pemulihan, memperhalus kulit, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh kita.
Tabel berikut merupakan khasiat yang terdapat dalam vitamin yang terkandung dalam buah jeruk:

Vitamin Kegunaan
Vitamin C • Meningkatkan sistem kekebalan
• Memperkuat jaringan tubuh, tulang, pembuluh darah
• Membantu memperbaiki jaringan yang rusak
• Membantu penyerapan zat besi
Carotene (Pro Vitamin A) • Menjaga kesehatan mata dan kulit
• Membantu pembentukan tulang
Thiamin (Vitamin B1) • Merubah karbohidrat menjadi glukosa, yang berperan sebagai tenaga bagi sistem syaraf dan otak
• Mengurangi resiko katarak

Buah Jeruk: Sumber mineral
Buah Jeruk juga mengandung banyak mineral, seperti kalsium, fosfor, potasium, dan zat besi. Tabel berikut merupakan khasiat yang terdapat dalam mineral yang terkandung dalam buah jeruk:

Mineral Function
Calcium • Membantu pembentukan tulang dan gigi serta mengatasi masalah pembekuan darah
• Menstabilkan reaksi otot dan syaraf
Phosphorus • Membantu pembentukan tulang dan gigi
Potassium • Membantu menjaga sirkulasi tubuh
• Memperbaiki metabolisme sel dan otak
Iron • Membentuk sel darah merah

Buah Jeruk: Sumber Serat
Selain vitamin dan mineral bermanfaat, buah jeruk juga mengandung serat, yang dapat meningkatkan sistem pencernaan kita, mengurangi resiko kanker kolon dan penyakit jantung.
Buah Jeruk: Agen Anti Kanker
Yang membuat buah jeruk berwarna orange adalah fotokimia. Jeruk, terutama lemon, sangat kaya akan Monoterpen yang mengandung dua jenis fotokimia: perilil alkohol dan limonen. Zat-zat ini efektif dalam menahan pengembangan kanker.

Anti Cancer
Sweet Orange • Bioflavonoid : antioksidan yang mencegah kanker
• Vitamin C : meningkatkan sistem kekebalan

Sabtu, 06 November 2010

Mbah Petruk


Sejak meletus Selasa 26 Oktober 2010, belum ada tanda-tanda Merapi bakal normal. Yang terjadi kemarin pukul 10.03 WIB, justru Merapi kembali erupsi untuk kali keempat.

Sudah 39 nyawa direnggut, dusun-dusun hancur, ratusan ternak mati -- masyarakat  terutama pengungsi gundah gulana, bertanya-tanya kapan ancaman Merapi akan berakhir.

Di tengah segala kegalauan, muncul sebuah foto yang membuat perasaan warga makin ketar-ketir: penampakan awan Mbah Petruk di atas Merapi.

Sosok mirip tokoh punakawan, Petruk ditangkap kamera berada di atas Merapi. Foto itu diambil Suswanto, warga Srumbung Magelang senin 1 November 2010 -- sebelum letusan terjadi.

Foto itu lantas menyebar dengan cepat dan menghebohkan dunia maya. Ada yang percaya, itu adalah petanda, Merapi akan muntab dengan kekuatan yang  lebih besar.
Arah hidung Petruk yang menunjuk Selatan dianggap tanda, bahwa wilayah Selatan akan mengalami kerusakan paling parah.
Namun, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan  Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandrio tak sepakat dengan anggapan itu. Dan menilai bahwa awan itu bukan petanda apa-apa, apalagi tanda letusan. "Jelas bukan," kata Subandrio saat dihubungi VIVAnews, Senin malam, 1 November 2010.

Meski demikian, Subandrio mengaku paham. "Kami memahami keyakinan mereka, tak menyalahkan. Itu  belum hilang di masyarakat, termasuk masyarakat Selatan,  masyarakat Utara dengan berbagai versi," tambah dia.

Menurut dia, ini adalah tantangan bagi mitigasi bencana dari aspek sosial -- bagaimana mengubah pandangan masyarakat agar lebih ilmiah.

Potensi letusan utama Merapi
Letusan yang terjadi tahun ini diakui Subandrio bukan yang terbesar. Kata dia, sejauh ini kekuatan letusan kali ini cuma separuh dari yang terjadi pada 1872.

Meski kali ini, abu menutupi wilayah sekitar Merapi di DIY dan Jawa Tengah, bahkan sampai ke Ciamis dan Tasikmalaya di Jawa Barat.

"Pada 1872, suara letusan menggelegar lebih dari 8 kilometer. Abunya ke arah Timur mencapai Madura, sementara ke Barat sampai Karawang," jelas dia.  Sementara, awan panas saat itu meluncur hingga sejauh 15 kilometer.
Kekuatan letusan Merapi saat ini juga masih di bawah letusan tahun 1930 dan tahun 1960-an. Jadi letusan kali ini bukan yang terbesar.

Jadi, kapan Merapi akan berangsur normal?

Subandrio mengaku tidak tahu. Kata dia, saat ini pihaknya sedang berusaha memahami pola letusan Merapi. Sebab," letusan yang sekarang berbeda dengan letusan yang kami kenal langsung," kata dia.

Diakuinya, tak pernah Merapi meletus seperti saat ini. "Merapi masih erupsi. Apakah letusan pertama yang terbesar, apakah  letusan berikutnya cenderung mengecil, apakah berhenti atau masih menunggu letusan utama, kami belum tahu."

Kata Subandrio, sesuai sekrenario memang ada potensi letusan utama. Letusan paling besar yang magmatis. Namun sekali lagi, itu baru perkiraan.

Meski demikian, langkah antisipatif telah dilakukan. Salah satunya, mengungsikan masyarakat yang tinggal di wilayah 10 kilometer dari puncak gunung. Ini lebih jauh dari penetapan wilayah rawan sebelumnya yakni radius 4 kilometer.

Dan, Merapi sampai saat ini belum digeser dari status Awas. Tim ahli gunung sedang menunggu dan mengamati.

Meski tak bisa memprediksi kapan pastinya Merapi meletus, Subandrio menegaskan, prediksi Merapi tak hanya soal waktu meletus, tapi juga tipe letusan.

Kata dia, sudah dari awal, BPPTK dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memprediksikan, letusan Merapi akan bersifat eksplosif.

"Ini justru jauh lebih penting. Bayangkan kalau kita prediksi letusan Merapi biasa, masyarakat di sana [lereng Merapi] akan habis."