Kamis, 09 Desember 2010

Lahar Dingin Bisa Bawa Jasad Korban Merapi

 Sudah sebulan lebih berlalu pasca letusan Merapi. Status gunung itu pun diturunkan, dari Awas menjadi Siaga. Sementara, kawasan rawan bahaya dipersempit menjadi 2,5 kilometer.

Bagaimana kondisi puncak Merapi? "Saat ini, kawasan puncak Merapi banyak turun hujan, belum dihuni, masih kosong," kata Komandan SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Suseno kepada VIVAnews, Rabu 8 Desember 2010 malam.

Saat ini, tambah dia, tim SAR telah menghentikan evakuasi jasad korban Merapi. "Masih ada yang terpendam di dalam tanah, namun kami belum bisa memastikan jumlahnya," kata dia.

Kini, setelah berjibaku mengevakuasi warga juga jasad korban Merapi, tugas berat menanti Tim SAR.

"Saat ini antisipasi lahar dingin, kami bertugas mengamankan warga di Kawasan Kali Code yang dialiri banjir lahar dingin," kata Suseno.

Diceritakan dia, aliran lahar dingin dari Merapi telah membuat dangkal sungai yang membelah Kota Yogyakarta itu. Meski arus dari atas tak seberapa deras, pendangkalan sungai membuat aliran air membahayakan.

Sejauh ini, aliran lahar dingin masih membawa material permukaan tanah di puncak dan lereng Merapi, berupa pasir dan abu.

"Jika air menggerus lebih dalam lagi, ada kemungkinan lahar dingin membawa jenazah yang terpendam dalam tanah. Kalau terbawa aliran air dan kelihatan, jasad akan kami ambil," tambah Suseno.

Meski berat, Suseno mengaku antisipasi lahar dingin tak sebahaya kerja di puncak Merapi, di mana tim SAR harus bekerja di tengah hawa panas memanggang dan berpacu dengan awan panas 'wedhus gembel' yang bisa turun sewaktu-waktu. "Di sini kami memantau curah hujan," tambah dia.

Sebelumnya, salah seorang relawan, Ariyanto Joko Widodo (39) menceritakan, ada banyak korban yang terkubur pasir dan abu vulkanik.

Saat pencarian, tak jarang, para relawan menemukan jasad yang tinggal tulang belulang. Saat diangkat dan dimasukkan kantung jenazah, belulang itu masih dalam kondisi panas.